oleh

Bagian II : Curhatan Diska Merintis Bisnis Mooi Hijab

MAKASSARTIMUR.COM, Makassar,_ Masih ingat dengan Diska Riski Saputri gadis cantik yang memulai bisnisnya saat duduk dikelas 2 SMA.

Kini bisnis yang dibangun dengan keringat dan air mata, serta kerja keras sekarang bisnis itu mulai berkembang hingga kebeberapa negara di benua Asia.

Namun sukses itu tidak serta-merta Diska dapatkan, inilah curhatan tentang kisah panjang perjalanan Diska merintis bisnisnya.


Dari dulu pengen nulis ini, tapi baru kesampaian karrna baru dapat moodnya.

Belakangan ini sering banget denger
“Enak ya jualan langsung habis”
“Enak dong jualan apa aja habis”
Kalo skrg keliatan “mudah” ya tapi coba kita flashback ke 6 tahun lalu pertama kali merintis Mooi Hijab.

Dengan modal 250.000 di jaman itu dikumpul dari uang jajan sendiri, pasti ada yang mikir masa iya ga minta modal, orang bapakmu ini mamakmu itu.

Alhamdulillah dari kecil saya dididik mandiri tidak bergantung pada orang, selain diri sendiri dan pada Allah.

Walaupun kalau saya minta orang tua pasti mengusahakan, rasa-rasanya segan untuk kembali membebankan mereka.

BACA JUGA  Jelang Reuni Akbar Kosmis Indonesia Ex-Korea, Panitia Berkerja Ekstra Keras

Jadilah Mooi Hijab dibangun dengan modal 250.000 tadi.

Awalnya 10 pcs jilbab, yang dijual seminggu hanya bisa laku 1.

Momennya bertepatan dengan sibuk-sibuknya nyusun skripsi.

Alhamdulillah sudah Pernah ngerasain door to door kerumah orang bawa segambreng barang jualan, pernah ngerasain jualan di pantai losari pas car free day, pernah merasakan ditipu orang barang dibawa dengan alasan dijualkan tapi duit ga ada barang ga balik, pernah buka los di Pasar Butung rasain cari pembeli 1 orang aja sehari yang penting modal ongkos kesananya balik.
Alhamdulillah semua Diska jalani dengan syukur, walaupun ada masa-masa down yang udah ga tau lagi mau gimana.

Karena ini jalan yang saya pilih, masa disekolahin tinggi-tinggi, mahal-mahal kok ujung-ujungya cuma jadi penjual, alhamdulillah pernah dikatain seperti itu sama orang-orang.


Awal 2018 menjadi titik balik, harga los dibutung naik, modal untuk sewa kembali belum balik. Rugi? Iya, Pusing? Jgn ditanya.

BACA JUGA  Kosmis Indonesia Korea, Wadah Silaturahmi TKI Eks.Korea


Akhirnya dengan penuh tekad, kita gulung karpet(gulung tikar) keluar dari Pasar Butung.

Bismillah, kembali dari nol, modal hanya barang dari Pasar Butung yang diobral online biar balik modal dulu.

Lalu pelan-pelan diputar kembali duit modalnya.

Kemudian kenal makassar dagang dibulan februari kalau ga salah.

Tepat setelah lebaran kena blokir bertubi-tubi, semua akun diblokir, sempat down lagi, pusing lagi.


Tapi Alhamdulillah punya keluarga besar luar biasa, yang selalu menguatkan saya, Insya Allah rejeki Allah yang atur.

Mulailah live di akun sendiri Diska Riski sampai sekarang, 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk membangun sebuah usaha, jatuh bangunnya, untung ruginya, beban pikirannya.

Kalo kata saya, hanya pribadi yang kuat yang bisa jadi pebisnis.

Karena menghadapi berbagai macam watak itu tidak mudah, intinya tulisan Diska buat hanya untuk berbagi sedikit pengalaman, yuk yang lagi merintis usaha atau bisnis, jangan patah semangat, hidup itu pasti ada ups and downsnya.

BACA JUGA  Usai Dilantik, Sejumlah Pengurus DPD II KNPI Maros Membesuk Warga Korban Kebakaran di RSUD Salewangan

Semoga kalian tidak melalui pahitnya seperti yang Diska pernah lalui, semoga usaha atau bisnis kalian berkah dan rejekinya mengalir.

Tips dari Diska, jangan takut berbagi rejeki apalagi dengan keluarga sendiri, kita tidak pernah tau do’a mana yang dijabah Allah.


Terima kasih sudah mau memberikan, semoga ada yg bisa dipetik dari sepenggal cerita Diska, And as Always much love from Diska Riski Saputri.

Terimakasih untuk semua langganan kesayangan Diska yang tidak bisa Diska sebut satu persatu, tanpa kalian Diska bukan siapa-siapa, support dan dukungannya Masya Allah luar biasa sekali, padahal banyak yang tadinya ga kenal tapi bener-bener tulus, Insya Allah, Allah yang balas semua kebaikan kalian.

Penulis : Diska Riski Saputri
Editor : Adhitya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *